Komunikasi yang sehat juga menciptakan lingkungan keluarga yang aman bagi semua anggota keluarga, karena mereka merasa didengarkan dan dihargai. Dengan demikian, semua orang, termasuk anak-anak kita, akan terbiasa untuk terbuka dan jujur akan apa yang sedang mereka alami, begitu juga antara suami dengan isteri. Sekalipun mereka melakukan kesalahan, tetapi mereka tidak ragu untuk terbuka dan jujur, karena mereka merasa tidak dihakimi, sebaliknya mereka merasa bahwa semua orang dapat menerimanya.
Di akhir jaman ini, kita melihat fenomena anak-anak muda di media sosial, dimana mereka begitu leluasa bercerita tentang apa yang sedang mereka alami, mereka bisa meminta saran dari orang-orang yang mereka sendiri tidak mengenalnya. Mengapa? Karena di sana mereka merasa diterima, bahkan dalam kekurangannya. Bagaimana dengan di rumah mereka sendiri? Ada banyak anak-anak muda yang jauh dari orang tua mereka, walaupun mereka tinggal satu rumah, tetapi tidak pernah berkomunikasi.
Dengan membiasakan untuk membangun komunikasi yang sehat, anak-anak akan merasa “nyaman” ketika bercerita kepada orang tua mereka, tidak merasa di hakimi atau disalahkan. Dengan demikian maka akan terbentuk komunikasi yang tulus, jujur dan terbuka satu dengan yang lain. Keluarga-keluarga Kristen harus memiliki waku-waktu khusus dimana semua orang dapat berkumpul dan saling cerita satu dengan yang tentang diri mereka dan apa yang mereka rasakan. Dengan demikian setiap orang dapat saling mendukung dan menguatkan di dalam Tuhan.
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
1. Apa yang harus dibiasakan oleh kita, termasuk dalam keluarga? (Yak. 5 : 16)
- Sudahkah kebiasaan ini terbangun dalam keluarga Anda?
BACAAN ALKITAB SETAHUN: 1 Tawarikh pasal7 – 9
“Komunikasi yang sehat juga menciptakan lingkungan keluarga yang aman bagi semua anggota keluarga.”