Setelah melihat Musa dan Elia, Petrus bermaksud mendirikan kemah, satu kemah untuk Kristus, satu kemah untuk Musa, dan satu kemah untuk Elia. Akan tetapi, suara dari sorga berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Perkataan Allah terhadap Petrus di sini mengandung dua arti: Pertama, pada hari ini bukan waktunya kamu berbicara, melainkan kamu harus mendengarkan perkataan-Nya, “Dengarkanlah Dia.” Kedua, kamu mengatakan, ada Kristus, ada Musa, ada Elia; tetapi Aku berkata, “Dengarkanlah Dia.” Bukan “Dengarkanlah mereka”, melainkan “Dia”. Petrus menyebutkan tiga pribadi itu, tetapi perkataan dari sorga hanya menyebutkan satu Pribadi. Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah tidak menginginkan hukum Taurat atau nabi, Ia hanya menginginkan Kristus.
Di atas takhta di sorga hanya ada Kristus, tetapi apakah dalam hati kita juga hanya ada satu, yaitu Kristus? Ataukah masih ada Musa dan Elia juga? Allah hanya menginginkan kita menerima Kristus saja. Namun, seringkali dalam hati kita tidak saja ada Kristus, juga ada hukum Taurat dan nabi, yakni perkara-perkara lahiriah warisan agama usang.
Hari ini, segala pimpinan atau petunjuk yang kita peroleh seharusnya berasal dari Kristus yang berhuni di batin kita, bukan dari peraturan atau hukum Taurat lahiriah yang mati. Kita tidak meremehkan Alkitab, tetapi mungkin saja kita menganggap Alkitab itu sebagai peraturan atau hukum Taurat. Hari ini, masalahnya tidak terletak pada bagaimana perkataan-perkataan hukum Taurat yang harfiah, melainkan terletak pada perkataan Kristus yang berdiam di batin kita. Kekristenan tidak dibangun di atas pengetahuan manusia, melainkan di atas hal berdiaamnya Kristus di batin kita. Maka siapa pun juga, jika ia mau menerima pimpinan Allah, ia harus mendengarkan perkataan Kristus yang di batin.
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
- Apakah yang Bapa katakan tentang Kristus? (Mat. 17 : 5)
- Bagaimanakah persekutuan Anda dengan Kristus hari-hari ini?
BACAAN ALKITAB SETAHUN: Hoseaa pasal 13 – 14
“Siapa pun juga, jika ia mau menerima pimpinan Allah, ia harus mendengarkan perkataan Kristus yang di batin.“